Kabut Asap yang Selalu Kembali: Jejak Karhutla Kalimantan Tengah
oleh
Andrie Callista
Setiap kemarau tiba, ada satu hal yang hampir bisa dipastikan terjadi lagi di Kalimantan Tengah: langit mendadak keruh, dan bau asap menyusup sampai ke rumah-rumah.
Ini bukan cerita baru. Sejak 1996, kebakaran sudah berulang menjadi persoalan tahunan di Kalimantan, bahkan sebelum generasi sekarang lahir.
Titik paling kelam ada di 1997-1998. Saat itu pemerintah membuka proyek lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan Tengah, mengeringkan tanah gambut yang harusnya basah. Sejak saat itu kebakaran gambut mulai jadi perbincangan serius, dan menurut perkiraan BAPPENAS-ADB, kebakaran hutan gambut 1997/1998 melahap sekitar 2,1 juta hektare lahan di Sumatra, Kalimantan, dan Papua — salah satu bencana kebakaran terbesar yang pernah tercatat.
Khusus 2015, kebakaran lahan gambut hebat menghanguskan sekitar 194.787 hektare.
Empat tahun berikutnya, giliran 2019 jadi sorotan. Pada pertengahan September 2019, BNPB mencatat 513 titik panas menyala di Kalimantan Tengah dalam satu hari, sementara asap sudah menyebar sampai ke Malaysia dan Singapura.
Dan sekarang, 2026, ceritanya belum jauh berbeda. Sampai akhir Juli, luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah sudah mencapai 3.069,52 hektare, dengan Kabupaten Sukamara jadi wilayah paling parah — sekitar 1.254,5 hektare ludes. Per 20 Agustus, satelit NOAA-20 mendeteksi 767 titik panas di Kalimantan Tengah saja, jumlah tertinggi di seluruh Kalimantan. Pemerintah provinsi sudah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026.
Sabtu, 22 Agustus 2026, situasinya naik satu level. Presiden Prabowo terbang langsung ke Kalimantan untuk mengecek dan memimpin penanganan karhutla serentak di empat provinsi terdampak.
Setelah singgah di Kalimantan Barat, Prabowo melanjutkan perjalanan ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tiba di Bandara Tjilik Riwut sekitar pukul 15.25 WIB, lalu langsung memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Posko Satgas Udara Aju. Untuk wilayah ini, penanganan lapangan dipercayakan pada Kepala Staf Angkatan Darat dan Wakapolri.
Yang bikin api di sini susah padam bukan cuma soal kemarau panjang. Kalimantan Tengah punya sekitar 2,55 juta hektare ekosistem gambut, dan sebagian besar sudah dibebani izin usaha. Begitu gambut kering, api yang tampak padam di permukaan bisa saja masih menyala pelan di bawah tanah — menunggu waktu untuk muncul lagi.
Hampir tiga dekade sejak 1997, pola yang sama masih terulang tiap tahun.
Hampir tiga dekade sejak 1997, pola yang sama masih terulang tiap tahun. Musim berganti, tapi kalender karhutla di Kalimantan Tengah rasanya nyaris tidak pernah benar-benar kosong.
Postingan Terkait