Ukuran Font Artikel
Small
Medium
Large

Dulu Kalau Mau Terkenal di Internet, Kamu Harus Rajin "jalan-Jalan"

Coba tanya orang yang aktif internetan sebelum 2010: gimana caranya biar blog kamu rame pengunjung?

Jawabannya hampir pasti sama. Blogwalking.

Dulu, blogger nggak cuma duduk manis nulis di blognya sendiri.

Dulu, blogger nggak cuma duduk manis nulis di blognya sendiri. Mereka "jalan-jalan" ke blog orang lain, baca tulisannya, terus tinggalin komentar sambil menyelipkan link balik ke blog sendiri. Itulah blogwalking — aktivitas saling mengunjungi dan mengomentari blog orang lain, lengkap dengan jejak link.

kamu kunjungi aku, aku kunjungi kamu.

Kedengarannya sepele. Tapi dari kebiasaan itu, lahir sesuatu yang lebih besar: jaringan pertemanan, komunitas, sampai budaya "kamu kunjungi aku, aku kunjungi kamu" yang jadi ciri khas dunia blogger.

Komunitas blogger Indonesia sendiri mulai tumbuh sekitar tahun 2003. Ada Blogbugs, Angkringan di Jogja, Bandung Blog Village, sampai komunitas blogger Malang. Nama Enda Nasution juga sering disebut sebagai "Bapak Blogger Indonesia", karena dialah yang memperkenalkan istilah "blog" lewat tulisannya pada 2001.

Puncaknya terjadi 27 Oktober 2007. Hari itu, untuk pertama kalinya para blogger dari berbagai daerah kumpul bareng dalam acara bernama Pesta Blogger. Saking bersejarahnya, tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menteri Komunikasi dan Informasi saat itu, Muhammad Nuh.

Blog juga jadi ruang buat siapa aja melaporkan apa yang mereka lihat dan alami sendiri.

Tapi blog bukan cuma soal komunitas dan komentar-komentaran. Blog juga jadi ruang buat siapa aja melaporkan apa yang mereka lihat dan alami sendiri, tanpa harus jadi wartawan profesional dulu. Inilah yang disebut jurnalisme warga, atau citizen journalism.

Warga jadi bukan cuma penonton berita, tapi ikut ambil bagian.

Lewat blog, orang biasa bisa cerita soal peristiwa di sekitarnya, kasih sudut pandang yang kadang nggak tertangkap media besar. Warga jadi bukan cuma penonton berita, tapi ikut ambil bagian: menulis, meluruskan, bahkan jadi sumber informasi pertama soal kejadian tertentu.

Sekarang, budaya itu terasa jauh berbeda.

Di era FYP, algoritma yang menentukan apa yang muncul di layar kita — bukan lagi jaringan pertemanan antar sesama pembuat konten. Video pendek 15-30 detik jauh lebih diprioritaskan ketimbang tulisan panjang. Interaksi pun bergeser: dari komentar yang isinya diskusi panjang, jadi kolom komentar yang penuh emoji dan reaksi cepat.
Nggak ada lagi acara "jalan-jalan" saling kunjung dan tinggalin link. Yang ada, kita di-suguhi konten oleh sistem, tanpa perlu usaha mencari sendiri.

Sekarang, algoritma yang memilihkan buat kita.

Mungkin bukan soal mana yang lebih baik. Tapi ada satu hal yang hilang dari cara itu: dulu, kita yang memilih mau baca siapa. Sekarang, algoritma yang memilihkan buat kita.
Posting Komentar