Kita Bangga Makan Tempe, Tapi Kedelainya dari Mana?
oleh
Andrie Callista
Ada satu makanan yang hampir tiap hari nongkrong di meja makan orang Indonesia. Harganya murah, gampang ditemukan, jadi andalan tukang gorengan di pinggir jalan. Tapi coba tanya satu hal: dari mana sebenarnya bahan baku tempe yang kita makan itu berasal?
Agar jangan sampai jadi "Bangsa Tempe".
Tempe sudah dikenal masyarakat Jawa sejak abad ke-16. Jejaknya tercatat dalam manuskrip Serat Centhini, muncul di sekitar Yogyakarta dan Surakarta. Dulu, tempe identik dengan makanan orang kebanyakan. Saking lekatnya citra itu, muncul istilah "bangsa tempe" atau "mental tempe" — sebutan yang dipakai untuk menggambarkan bangsa yang dianggap lemah. Bung Karno sendiri pernah mewanti-wanti rakyatnya agar jangan sampai jadi "Bangsa Tempe".
Tempe justru jadi penyelamat banyak orang.
Tapi di balik citra yang sempat merendahkan itu, tempe justru jadi penyelamat banyak orang. Saat daging mahal atau susah dijangkau, tempe selalu ada sebagai gantinya. Murah, mengenyangkan, dan proteinnya tinggi.
Sekarang, ceritanya berbalik. Indonesia tercatat sebagai produsen tempe terbesar di dunia sekaligus pasar kedelai terbesar di Asia, menurut catatan Badan Standardisasi Nasional. Sekitar separuh dari total konsumsi kedelai nasional berakhir jadi tempe, sisanya jadi tahu dan produk lain seperti kecap.
Nah, di sinilah ironinya muncul. Awal Februari 2026, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto sempat menyentil soal ini di acara Panen Fest 2026 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Ia mengungkap bahwa lebih dari 70 persen kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi dari impor. Katanya, kondisi ini seharusnya membuat Indonesia malu — sebab tahu dan tempe adalah makanan sehari-hari, tapi bahan bakunya justru bergantung pada negara lain.
Data yang ia sebut cukup mencolok: kebutuhan kedelai nasional per tahun mencapai 2,9 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya menyumbang 300 ribu sampai 400 ribu ton saja. Sisanya, sekitar 2,6 juta ton, harus didatangkan dari luar negeri — mayoritas dari Amerika Serikat.
Pasar domestik bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding harga di pasar internasional.
Data Badan Pusat Statistik juga mencatat pola serupa dalam beberapa tahun terakhir. Impor kedelai tahun 2023 mencapai 2,27 juta ton, lalu naik jadi sekitar 2,6–2,7 juta ton di tahun 2024. Kajian NEXT Indonesia Center bahkan mencatat harga kedelai impor di pasar domestik bisa dua kali lipat lebih mahal dibanding harga di pasar internasional.
Jadi begitulah. Makanan yang dulu jadi simbol kesederhanaan rakyat kecil, kini justru sangat bergantung pada rantai pasok dari negara lain. Tempe tetap ada di wajan gorengan pinggir jalan. Tapi kedelainya, sudah menempuh perjalanan jauh sebelum sampai ke situ.
Postingan Terkait